<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/1778843616687547615?origin\x3dhttps://personalcamomileblend.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
other cup| friendster| blogger

prelude

this is my personal camomile blend
a cup i made it myself,
and a drink i enjoy it by myself
don't look around!
there's only me, myself and I here

a friend of melodies

Kamis, 07 Februari 2008 | 02.50
07.02.2008 - 08

niatannya sih aku mau posting tentang pemikiran setelah chinese lunar new year's dinner kemarin malam, cuman ngga' tau kenapa bisa nyangkut masalah nasionalis ya?
hahaha.. :X

kemarin malam dinner imlek pertama kami setelah kepergian emak ke surga.
beda tentunya.
dari lokasi acara (sekarang pindah ke rumahku), makanan (yang biasa ada misua khas emak), juga tentunya jumlah anggota malam itu.
jujur saja, aku ngga' terlalu nyaman dengan keluarga dari papa.
mereka ngga' terasa dekat seperti sanak saudara, dan kebanyakan ngga' tau diri. bisanya cuma ngrepotin papa aja.
jadi aku agak sinis sama mereka.

tapi ngga' tau apa yang terjadi malam itu sebenarnya.
waktu Tuaya (panggilan buat kakak perempuan dari papa) dateng, dan masuk ke kamar, trus gabung sama kami, rasanya ngga' tega buat "jahat" dan sinis sama dia.
somewhere di dalem hati ini bilang, "namanya juga keluarga".

kadang aku merasa, mungkin ini permainan Destiny yang menyatukan kami semua secara paksa lewat ikatan darah.
akhirnya dengan mau-tidak-mau kamipun harus saling mengasihi dan bersikap "ya wes lah" kepada mereka atas nama keluarga.
walaupun secara kasat mata kami ini ngga' cocok.
dan kalau bukan ditakdirkan punya hubungan darah, tentu kami memilih untuk jauh-jauh saja dari kehidupan mereka.

lalu apa yang ingin Bapa ajarkan, sih?
bahwa cinta itu tersembul begitu saja, yang sebenarnya di luar kehendak kita - hanya karena ikatan persaudaraan yang tidak terhindarkan?
cinta yang dari lahir, yang secara tidak langsung tumbuh dengan sendirinya, yang bertindak seakan "buta" oleh keburukan saudara kita dan cukup ditambal dengan kalimat "namanya juga keluarga"?

aku udah menyaksikan cukup banyak pengorbanan yang papa lakukan buat saudara-saudaranya, yang seharusnya bukan tanggung jawab dia, yang bikin aku ikutan capek walopun cuman melihat dari jauh!

aku ngga' mengerti hubungan seperti apa yang ada dalam keluarga itu.
seakan membenci pun tidak boleh terlalu njedog.
"kan kita keluarga".

aneh ya?
absurd sekali, Dy.

tapi tanpa disadari, cinta itu juga tumbuh dalam diriku ini.
seakan memaksa aku mencintai mereka yang tidak-punya-cukup-alasan-untuk-dicintai-sedemikian-rupa selain : "kan kita keluarga".

hah, sudahlah..
bingung juga.
:X