haduuhh... lamanya saya ndak nulis apa-apa di blog ini. hff..
merasa bersalah karena sebenarnya saya sudah berkomitmen buat merekord tiap-hari saya lewat tulisan.
mungkin sebaiknya harus diresolusi untuk mencapai arah yang lebih baik. ;)
okey, so..
beberapa hari ini lumayan menyibukkan sampai-sampai saya ngga' ada niatan buat mengudara di dunia maya. biasanya saya getol banget. hahaha...
saya ambil kursus nyetir 10jam, dan baru berjalan 3x pertemuan.
wah ternyata untuk pertama kali, nyetir itu sulit juga!
ada seni'nya, main feeling sih.
saya masi' cenderung kagok waktu mau ambil haluan untuk belok, juga untuk memperkirakan timing yang tepat di permainan kopling+gas.
tapi selalu saja ada hal menarik, yang saya pelajari lewat gumamaman hati bahkan kala dimarahi om-om yang ngajarin. :X
saya belajar pertama kalinya untuk benar-benar tekun, dan sabar.
tekun untuk belajar dari nol. dan sabar menghadapi perkembangan arah belajar diri saya yang lambat, dan tidak tergesa-gesa agar cepat bisa.
ternyata ketekunan dan kesabaran pun perlu dipelajari.
saya cenderung seperti itu. suka membayangkan yang aneh-aneh.
membayangkan diri saya ini sudah langsung bisa nyetir, berkeliling surabaya, dan semacamnya.
saya juga sering membayangkan waktu-waktu saya nanti jadi desainer interior yang sukses, punya pekerjaan tetap dan bisa travelling ke mana-mana.
wah serasa senang banget ngebayanginnya!
tapi saya lupa, semuanya itu harus dimulai dari bawah.
dan kadang saya jatuh di tengah-tengah karena itu : bayangan yang terlalu tinggi, dan ketidak-tekunan kala menjalaninya, juga paradigma yang suka nyaut; "kok ngga' 'nyampe-nyampe' sih?".
karena itu pelajaran untuk mengakui bahwa; ya, saya memang harus belajar dulu dari paling bawah, karena saya ngga' bisa apa-apa. dan saya harus tekun menjalaninya.
oh ya saya rasa ini berkaitan dengan kesetiaan.
di mana saya harus menyelesaikan apapun yang sudah saya mulai dengan baik. well done.
itu terkait dengan renungan bacaan saya di hari pertama bulan februari ini.
setia.
sulit. tapi itulah yang TUHAN saya ajarkan.
IA yang telah setia kepada umatNYA selama beribu-ribu tahun, yang tetap dengan kasih dan rahmat setia memelihara saya, sejahanam apapun saya.
kasihNYA melampaui akal, dan kadang benar-benar tidak rasional.
namun itulah DIA yang setia.
no matter what.
kesibukan hari-hari ini yang dipenuhi dengan berbagai macam distraksi yang membuat saya teralihkan dari komitmen-komitmen yang sudah saya buat: sketching daily, filing dokumen-dokumen interior, jogging, saat teduh tiap subuh, blogging, dan beberapa yang lainnya.
namun bukan juga bahwa kesibukan-kesibukan itu tidak terkait dengan "kewajiban kesetiaan", contohnya saja: les menyetir yang juga butuh ketekunan, tanggungjawab urusan kampus (stiker, PCF, kamp mahasiswa), juga project valentine yang saya buat dengan teman gereja saya.
kesetiaan pun perlu koordinasi ya?
sebelum memutuskan untuk setia, perlu ada kematangan pertimbangan di balik itu semua.
semua ini lagu lama, semua orang juga tahu. tapi memang saya si bebal ini baru bisa sadar kalau baru menjalaninya sendiri.
hidup ini juga menyangkut kesetiaan.
setia untuk hidup sebaik-baiknya dan penuh pertanggungjawaban terhadap DIA sang pemberi hidup.
bisakah saya setia?
bisakah saya tetap berjalan on the track no matter what?
saya ingin bisa setia.
karena itu saya setia terus mengotokritik diri saya untuk bisa terus setia.
saya terus setia merindukan kesetiaan yang dari diri saya.
kerinduan yang memunculkan kesetiaan itu pada kekinian.
setia.
mungkin KD benar, "cobalah untuk.. setia".