saya baru selesai post sebuah entry baru untuk blog saya yang go-public tentang pengalaman 3hr penuh arti di camp kemarin.
saya masih ingat apa yang Ce Karin (ketua HIMA Intra kami) omongkan sebagai penutup camp malam itu.
kami tidak layak disebut mahasiswa. kami masih manja. masih tidak peka terhadap lingkungan sekitar. masih seperti anak SMA yang ditempeli status baru, bukan sepenuhnya merupakan kepribadian dewasa sebagaimana seharusnya.
saya masih manja. dan saya tidak layak disebut mahasiswa.
saya jadi ingat kalimat yang saya letakkan di setiap personal letter saya kepada orang-orang terkasih di ulangtahun ke 17 saya.
"i don't want to be growing up".
saya benci dunia orang dewasa yang kejam dan menakutkan.
di satu sisi, dunia anak-anak saya yang begitu kuat memang menawarkan lebih banyak fantasy dan kemurnian berpikir yang jauh lebih tulus dan menentramkan, yang membuat saya malas dan was-was untuk beranjak dari dunia kecil saya.
namun saya kembali berpikir, jangan-jangan karena saya tidak mau melepas privilege itu. tidak mau melepas zona nyaman saya sebagai seorang pupuk bawang, dan beranjak bangkit untuk berdiri dengan kaki sendiri.
camp itu mengajarkan saya terlalu banyak hal. terutamanya untuk menjadi "orang".
apa itu persahabatan, apa itu namanya rela berkorban, apa itu yang disebut bisa mengurus diri sendiri, apa itu yang dibilang terbuka, dan "apa yang-apa yang" lainnya.
tadi sore ketika berbincang lewat sms dengan Lia, saya bilang bahwa akhir-akhir ini hidup terasa "penuh". Lia cuman bilang, "daridulu hidup memang begini, hanya saja kamu yang lebih peka sekarang, jadi terasa meaningful. sebenarnya banyak yang sudah kamu lewatkan dari dulu-dulu hanya karena kamu terlambat membuka mata".
Lia benar.
saya terlambat.
tapi kamu tahu, terlambat tidak membuat saya berhenti.
saya akan terus berjalan.
sulit. saya akui itu.
dan berat.
ini perjalanan menuju kedewasaan pertama saya yang saya mau jalani dengan serius.
ternyata hidup memang berat.
tapi kamu tahu,
saya sendiri juga tidak sabar untuk menantikan hari-esok tiba!
sama seperti hari-esok juga menantikan senyum lembut saya untuk mengawali hari menuju kedewasaan.
TUHAN, dengarlah aku.
dan jangan tinggalkan aku.
kumohon