<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/1778843616687547615?origin\x3dhttps://personalcamomileblend.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
other cup| friendster| blogger

prelude

this is my personal camomile blend
a cup i made it myself,
and a drink i enjoy it by myself
don't look around!
there's only me, myself and I here

a friend of melodies

Kamis, 31 Januari 2008 | 23.29
01.02.2008 - 02

selesai membuat blog baru ini, saya wilfying ke beberapa blog teman, dan akhirnya sampailah saya pada satu blog entah bikinan siapa : Peduli Indonesia.
baru-baru ini saya membeli satu thermos-cup starbucks yang bermotifkan batik dengan aksen wayang kulit di tengahnya, dan bertuliskan "Indonesia". harganya 85ribu dan baru saja dipecahkan sama adik saya.
saya bangga mempunyai thermos itu.
karena:
1. saya membantu mengurangi pemakaian botol plastik dengan mengisi ulang air minum yang ingin saya gunakan setiap harinya
2. itu membantu menunjukkan nasionalisme saya lewat motif thermos yang bertuliskan "Indonesia" tersebut.

tapi entah bagaimana, saya sejujurnya merasa malu.
karena rasa bangga itu muncul diiringi kesombongan dan kepala yang menengadah ke atas penuh pamer.
nasionalisme dan peduli-lingkungan itu bukan lagi muncul dari hati yang yang plaing dalam, melainkan berubah menjadi suatu ajang aktualisasi diri untuk membedakan saya dengan yang lain.
untuk memperlihatkan bahwa saya "berbeda", dan karena itu saya patut disanjung dan dikagumi.

saya baru sadar betapa menjijikannya saya.
kasihan negara ini, hanya menjadi kambing hitam yang masih tetap tidak jelas nasib dicintai bangsanya sendiri bagaimana.

saya malu.
dan saya jijik, terhadap diri saya sendiri.