<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/1778843616687547615?origin\x3dhttps://personalcamomileblend.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
other cup| friendster| blogger

prelude

this is my personal camomile blend
a cup i made it myself,
and a drink i enjoy it by myself
don't look around!
there's only me, myself and I here

a friend of melodies

Kamis, 24 April 2008 | 03.49
24.04.08 - 11

Kamis, 07 Februari 2008 | 03.05
07.02.2008 - 09
aku baru aja baca blognya Lia.
lumayan kaget karena dia nulis "Love Gabby, Love Elly" di salah satu postingnya. i thought they're her new housemates.
well, a lil' bit surprised because once she ever told me dia ngga' segampang itu ngm "love" ke orang.
dan setahuku, cuman ada 2 (mungkin klo ma Han-Sung kehitung 3) orang (besides family) yang dia bilang sayang.
Elven, dan aku.

dan tiba-tiba rasa itu muncul.
cemburu.

it's like.. persahabatan kami yang sudah berjalan 6tahun (ditandai dengan kata "love" dia) bisa digantikan dengan pertemanan mereka yang mungkin kurang dari setahun?

aku memang bukan tipe orang yang menganggap "sakral" kata itu. bukan pula berarti aku mereduksi makna agung di baliknya.
setiap aku melanturkan kata itu, aku menganggapnya ya itulah cinta itu. begitu banyak macamnya.
seperti ketika aku melanturkan kepada Ce Fanny, karena aku berterima kasih akan persahabatan simpel yang dia beri.
dan semacam itulah cinta.
ada yang ringan sekali, dan ada yang begitu agung. heart knows.

oh, dan link blogku di layout blog dia, it was "greatest sista eva".
and now.. it just was written as my name : Christa".
i don't like it that much.
for me, nama itu begitu formal.
biasa aku lebih suka menulis "crista", untuk mempersingkat, dan membuatnya lebih akrab.

aku sedih, tapi di satu sisi aku pun merasa bersalah.
waktu.
itukah?
karena aku tidak punya waktu?
kurasa bukan itu. karena aku egois
aku terlalu begitu menikmati hidupku dan kesibukannya, dan meninggalkan teman-teman yang selama ini telah menemani perjalananku.
wow.. aku benar-benar tidak percaya aku seperti ini.

aku bersyukur, karena Lia mendapatkan teman-teman baru yang begitu hangat.
at least, dia tidak merasa kesepian.
kalau dia sampe' dapet temen-temen yang dingin..
hah.. aku tidak tahu mesti bagaimana.
dia pasti bakal sangat down dan.. aku pasti sedih sekali.

tanpa kusadari, aku seperti gong yang bergemerincing.
seperti lagu yang kunyanyikan; "The Gift Of Love",
though i may have the bravest fire, and have not love.. that's just a hopeless gain.

love.. love yang seperti apa?
yang kusebar-sebar dan kuseru-serukan begitu murahnya? tapi tidak benar-benar punya makna? yang ternyata hanyalah ungkapan sesaat karena begitu senangnya aku dicintai dan membalas sekedar "i love you, too!" padahal tidak mengerti apa makna dan tanggungan di balik kata itu?

mencintai kehidupan, bukan berrati mencintainya untuk diri sendiri.
namun karena telah memberi.
aku sadar itu.
namun aku terus mmbiarkan suara hati itu berbisikkecil dan tetap tidak mengindahkannya.

aku sadar, aku sayang Lia. sayang sekali.
tapi apa gunanya itu, bila aku tidak pernah membuktikannya?

crista yang selalu meyakinkan orang lain (dan mungkin sebenarnya dirinya sendiri) bahwa ia mencintai kehidupan,
benarkan telah mencintai kehidupan dengan cinta?
atau dengan keegoisan?

besok aku akan mengikuti retreat di Batu.. 3 hari..
waktu yang benar-benar baik untuk merenung, dan kembali pulang ke "rumah"..


| 02.50
07.02.2008 - 08
Dy saya ini bingung mau jadi orang yang bagaimana.
kamu tau si Nicoline Patricia 'kan?
nah, saya tuh pengen bisa kaya' dia!
dia tuh talented gitu loh Dy.

travelling ke mana-mana, punya job yang dia enjoy banget bikinnya, dan anaknya bisa easy-going banget gitu! so expressive.

aku suka smua yang berbau eksistensialis, artistic, london (this one is really freak, i admit it), witty, classy, eclectic, smart, and.. pokoknya.. yang fairy-fairy gitu juga.

i want to be known as that kinda-girl!

tapi aku ndak tau mesti mulai dari manaaaa...
aduh Dy bingung eh jelasinnya!!!

kamu pasti ngerti toh?
iya lah harus ngerti! kamu 'kan juga bagian dari diriku yang aku ekspresikan lewat text.
pikiranku dan pikiranmu menyatu.
hanya saja kamu lebih terbatas karena kamu harus dihidupkan lewat text, dan tidak bisa menjelajah dunia absurditasku.
hanya di saat itulah kita tidak bisa saling berhubungan.
yang aku hanya bisa lakukan hanya menceritakan dunia dalam pikiranku ini lewat kata.
tapi itupun tidak cukup.
karena text itu sudah kehilangan pureness dari absurditasnya.
dia sudah setengah-real (tampak), namun memang masih menyimpan kemisteriusannya lewat absurditas. dia itu siluman.
karena itu sulit.

tapi pikiran kita satu 'kan?
karenanya kamu pasti mengerti.

ah Dy, aku hanya ingin merekam gelembung-gelembung kegilaanku lewat hal lain selain fantasi saja kok.
supaya suatu saat nanti kalau-kalau gelembung itu pecah, atau bersembunyi di suatu tempat yang aku bahkan tidak bisa menemukan (yang tentunya masih di dalam otakku ini), aku masih bisa mengenangnya lewat kamu!

eh
aku baru saja menemukan diriku ini aneh.
lihat saja, aku bisa mengetik sepanjang dan segila ini.
tapi aku senang.
artinya, aku sudah one-step-closer to be that-kinda-girl i want to be!
horay!
mungkin cuma perlu sedikit diasah saja ya?

*hoping*


| 02.06
07.02.2008 - 07
niatannya sih aku mau posting tentang pemikiran setelah chinese lunar new year's dinner kemarin malam, cuman ngga' tau kenapa bisa nyangkut masalah nasionalis ya?
hahaha.. :X

kemarin malam dinner imlek pertama kami setelah kepergian emak ke surga.
beda tentunya.
dari lokasi acara (sekarang pindah ke rumahku), makanan (yang biasa ada misua khas emak), juga tentunya jumlah anggota malam itu.
jujur saja, aku ngga' terlalu nyaman dengan keluarga dari papa.
mereka ngga' terasa dekat seperti sanak saudara, dan kebanyakan ngga' tau diri. bisanya cuma ngrepotin papa aja.
jadi aku agak sinis sama mereka.

tapi ngga' tau apa yang terjadi malam itu sebenarnya.
waktu Tuaya (panggilan buat kakak perempuan dari papa) dateng, dan masuk ke kamar, trus gabung sama kami, rasanya ngga' tega buat "jahat" dan sinis sama dia.
somewhere di dalem hati ini bilang, "namanya juga keluarga".

kadang aku merasa, mungkin ini permainan Destiny yang menyatukan kami semua secara paksa lewat ikatan darah.
akhirnya dengan mau-tidak-mau kamipun harus saling mengasihi dan bersikap "ya wes lah" kepada mereka atas nama keluarga.
walaupun secara kasat mata kami ini ngga' cocok.
dan kalau bukan ditakdirkan punya hubungan darah, tentu kami memilih untuk jauh-jauh saja dari kehidupan mereka.

lalu apa yang ingin Bapa ajarkan, sih?
bahwa cinta itu tersembul begitu saja, yang sebenarnya di luar kehendak kita - hanya karena ikatan persaudaraan yang tidak terhindarkan?
cinta yang dari lahir, yang secara tidak langsung tumbuh dengan sendirinya, yang bertindak seakan "buta" oleh keburukan saudara kita dan cukup ditambal dengan kalimat "namanya juga keluarga"?

aku udah menyaksikan cukup banyak pengorbanan yang papa lakukan buat saudara-saudaranya, yang seharusnya bukan tanggung jawab dia, yang bikin aku ikutan capek walopun cuman melihat dari jauh!

aku ngga' mengerti hubungan seperti apa yang ada dalam keluarga itu.
seakan membenci pun tidak boleh terlalu njedog.
"kan kita keluarga".

aneh ya?
absurd sekali, Dy.

tapi tanpa disadari, cinta itu juga tumbuh dalam diriku ini.
seakan memaksa aku mencintai mereka yang tidak-punya-cukup-alasan-untuk-dicintai-sedemikian-rupa selain : "kan kita keluarga".

hah, sudahlah..
bingung juga.
:X



Rabu, 06 Februari 2008 | 04.26
06.02.2008 - 06
"… sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati."
Goenawan Muhammad 4:80; 2008

nasionalistik yang selama ini saya gembor-gemborkan lewat blog, friendster, ataupun thermos starbucks mungkin bisa dikatakan hanyalah sekadar bualan.
bahkan hanya sekadar ajang pamer seorang perempuan yang sebenarnya awam soal nasionalistik, tapi dengan bodohnya berpikir bahwa dirinya tahu benar tentang hal itu, dan dengan heroik mencoba menjadi pelopor.

berapa banyak kali saya mencela negri ini?
mengkritik pedas sana-sini, menganggap remeh produk negri sendiri, dan menolak mencintai lagu bahasa sendiri hanya karena kualitasnya yang memang kalah dibandingkan dengan yang lain?

saya teringat komentar sahabat saya; Lia, mengenai dislikeness saya terhadap lagu-lagu indie a la Indonesia dewasa ini.
saya memang picky untuk soal musik.
saya menyukai musik terutama dengan lirik yang eksistensialis dan sedikit mello-dramatic, yang puitis dan witty, dan iramanya ballad-classical dan mungkin dengan sentuhan jazz dan rock.
sedangkan kebanyakan lagu band-band Indonesia tidak seperti itu.
mereka cenderung mengikuti irama apa yang tren kala itu, dan menduplikatnya dengan sentuhan lain, dan liriknya bisa dikatakan "dangkal".
yang penting "menjual", dan kalangan masyakarat luas suka.

bagi saya, definisi musik jauh lebih dalam daripada sekadar alunan not yang disusun sekenanya.
it just goes far beyond that.
musik itu punya jiwa.
punya nafas yang bisa membangkitkan.
dan karena itu musik itu mahal.
lihat saja harga tiket-tiket konser musik klasik.
selangit 'kan?
dan dulu, musik klasik hanya diperuntukkan bagi kalangan borjuis, bukan golongan jelata.
diskriminatif, saya akui.
namun di sini bisa kita lihat bahwa orang pada kala itu mengerti benar, apa arti musik.
dan mengapa musik harus dihargai semahal itu.

namun saya kira nasionalistik (mengikuti definisi Goenawan Muhammad) dan musik tidak bisa disatupadukan.
mencintai bangsa, dan menjadi bagian di dalamnya, berarti juga menerima keadaan bangsa ini sebagaimana adanya ia.
bagaimanapun kondisi musiknya (yang sedang tren kala ini, yang cukup menjadi ikon bangsa ini) - satu hal yang saya permasalahkan dari bangsa ini.

cukup sulit untuk menerima, dan terutama memberitahu diri saya sendiri bahwa bagaimanapun jeleknya musik Indonesia, ataupun betapa terpuruknya kondisi negara ini, tidak akan merubah status saya sebagai warga negara ini.

saya bagian dari negri ini, dan seperti yang Goenawan Mohammad katakan; bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati.

kata nasionalis itu,
harus saya gumulkan kembali.
sudah siapkah saya memproklamirkan bahwa saya seorang yang nasionalis?

jangan sampai saya hanya menjadi duri dalam daging bagi negri ini.



| 04.07
06.02.2008 - 05
apa yang sedang kamu rindukan christa?
perasaan nyaman seperti apa?
ataukah siapa yang sedang kamu rindukan?

apa yang kamu cari setiap malam?
perlindungankah?
atau apa?

mengapa masih mencarinya di situ saja?
kau sudah tentu tahu tidak ada yang bisa kau temukan di sana.
lalu mengapa masih menggali terus?
hanya akan melukai tangan dan hatimu.
sudah, biarkanlah pergi.
perasaan itu, kegusaran itu.

serahkan pada Sang Langit.
minta datangkan hujan supaya luluh!
lalu berikan saja gempa agar hancur tak bersisa.
kalau sudah roboh dan koyak, apa lagi yang mau dibalut?
apa lagi yang mau diselamatkan?
masih adakah yang mau kau lindungi?

kosong memang menyakitkan, christa.
tapi kosong juga berarti bisa memulai sesuatu yang lain, yang baru, yang bisa kau pilih sesuka hati untuk diisi.

Sang Langit sudah menanti dari tadi pagi.
bahkan dari subuh, jauh sebelum kau memimpikanNya.
aku tentu tidak bisa memberimu jaminan apa-apa apakah Dia sanggup memberimu bintang malam yang gemerlap ke dalam kotak kosongmu itu.

mungkin Dia bisa. -oh, tentu Dia bisa!
hanya saja, terkadang Dia bisa saja mau, bisa juga tidak mau.
aneh dan membingungkan memang,
sulit ditebak.
tapi dengan begitu kau bisa memulai lompatan imanmu!

kuharap kau akan mengatakan, "mau".
dan memulai perjalanan fantasimu bersama Dia.
ayo christa, jangan sampai terlambat.

Sabtu, 02 Februari 2008 | 06.12
02.02.2008 - 04
haduuhh... lamanya saya ndak nulis apa-apa di blog ini. hff..
merasa bersalah karena sebenarnya saya sudah berkomitmen buat merekord tiap-hari saya lewat tulisan.
mungkin sebaiknya harus diresolusi untuk mencapai arah yang lebih baik. ;)

okey, so..
beberapa hari ini lumayan menyibukkan sampai-sampai saya ngga' ada niatan buat mengudara di dunia maya. biasanya saya getol banget. hahaha...
saya ambil kursus nyetir 10jam, dan baru berjalan 3x pertemuan.
wah ternyata untuk pertama kali, nyetir itu sulit juga!
ada seni'nya, main feeling sih.
saya masi' cenderung kagok waktu mau ambil haluan untuk belok, juga untuk memperkirakan timing yang tepat di permainan kopling+gas.
tapi selalu saja ada hal menarik, yang saya pelajari lewat gumamaman hati bahkan kala dimarahi om-om yang ngajarin. :X

saya belajar pertama kalinya untuk benar-benar tekun, dan sabar.
tekun untuk belajar dari nol. dan sabar menghadapi perkembangan arah belajar diri saya yang lambat, dan tidak tergesa-gesa agar cepat bisa.
ternyata ketekunan dan kesabaran pun perlu dipelajari.
saya cenderung seperti itu. suka membayangkan yang aneh-aneh.
membayangkan diri saya ini sudah langsung bisa nyetir, berkeliling surabaya, dan semacamnya.
saya juga sering membayangkan waktu-waktu saya nanti jadi desainer interior yang sukses, punya pekerjaan tetap dan bisa travelling ke mana-mana.
wah serasa senang banget ngebayanginnya!
tapi saya lupa, semuanya itu harus dimulai dari bawah.
dan kadang saya jatuh di tengah-tengah karena itu : bayangan yang terlalu tinggi, dan ketidak-tekunan kala menjalaninya, juga paradigma yang suka nyaut; "kok ngga' 'nyampe-nyampe' sih?".

karena itu pelajaran untuk mengakui bahwa; ya, saya memang harus belajar dulu dari paling bawah, karena saya ngga' bisa apa-apa. dan saya harus tekun menjalaninya.
oh ya saya rasa ini berkaitan dengan kesetiaan.
di mana saya harus menyelesaikan apapun yang sudah saya mulai dengan baik. well done.
itu terkait dengan renungan bacaan saya di hari pertama bulan februari ini.

setia.

sulit. tapi itulah yang TUHAN saya ajarkan.
IA yang telah setia kepada umatNYA selama beribu-ribu tahun, yang tetap dengan kasih dan rahmat setia memelihara saya, sejahanam apapun saya.

kasihNYA melampaui akal, dan kadang benar-benar tidak rasional.
namun itulah DIA yang setia.
no matter what.

kesibukan hari-hari ini yang dipenuhi dengan berbagai macam distraksi yang membuat saya teralihkan dari komitmen-komitmen yang sudah saya buat: sketching daily, filing dokumen-dokumen interior, jogging, saat teduh tiap subuh, blogging, dan beberapa yang lainnya.
namun bukan juga bahwa kesibukan-kesibukan itu tidak terkait dengan "kewajiban kesetiaan", contohnya saja: les menyetir yang juga butuh ketekunan, tanggungjawab urusan kampus (stiker, PCF, kamp mahasiswa), juga project valentine yang saya buat dengan teman gereja saya.

kesetiaan pun perlu koordinasi ya?
sebelum memutuskan untuk setia, perlu ada kematangan pertimbangan di balik itu semua.
semua ini lagu lama, semua orang juga tahu. tapi memang saya si bebal ini baru bisa sadar kalau baru menjalaninya sendiri.

hidup ini juga menyangkut kesetiaan.
setia untuk hidup sebaik-baiknya dan penuh pertanggungjawaban terhadap DIA sang pemberi hidup.

bisakah saya setia?
bisakah saya tetap berjalan on the track no matter what?
saya ingin bisa setia.
karena itu saya setia terus mengotokritik diri saya untuk bisa terus setia.
saya terus setia merindukan kesetiaan yang dari diri saya.
kerinduan yang memunculkan kesetiaan itu pada kekinian.

setia.
mungkin KD benar, "cobalah untuk.. setia".

hi, Dy..
hari ini smua berjalan agak menjengkelkan.
*aku udah males cerita dari pertama*
yang terburuk yaitu i did the same mistake again. the bad one.
which surely made Heavenly Daddy hurt again.

hari ini aku terima email dari kev, aku sih yang ngemail duluan. i'm hoping sebenarnya dia bakal bales panjang dan cerita-cerita kaya' dulu lagi.
tapi di akhir kalimat, dia cuman bilang "yauda CU d MSN".
then i know kalo he no longer wants this email thingy berlanjut.
i somehow can read people's mind perhaps. hahaha...
tapi kadang banyak salahnya juga sih.

hari ini Dy, aku belajar bener bagaimana ngatur emosi. dan itu sulit sekali.
di tengah kejengkelan, apa masih bisa kita itu bersikap dewasa, dan ngga' mencampuradukkan emosi dengan urusan yang sedang ada di hadapan mata saat itu.
aku banyak gagalnya, tapi ngga' gagal-gagal banget juga loh.
walopun jengkel, aku berusaha keras untuk menjaga nada bicaraku sama mama, dan yang lainnya.
rasanya klo lagi bad mood tuh, smua omongan orang jadi kedengaran panas di kuping.
beneran.
padahal kalo dipikir-pikir lagi juga, di mana salahnya omongan mereka ya.. >.<

Dy, aku juga belajar bagaimana untuk "bila pipi kirimu ditampar, berilah juga pipi kananmu".
aku belajar untuk memutar haluan. untuk bersikap sebaliknya, kala hatiku disakiti.

waktu Mel nutup telepon dengan nada yang agak ngga' enak, otomatis aku juga ikutan jengkel. toh bukan salahku, kenapa dia yang jutek?
tapi (kuharap itu suara) Roh Kudus bids me buat kirim SMS ke Mel, dan say sorry duluan. aneh ya dy?
tapi malahan Mel kasi' respon positif dan itu bikin aku lega.
aku juga mau belajar, walaupun responnya nanti ngga, seperti yang aku harapkan, aku harus tetap jadi berkat buat orang lain.

aku agak menyesal udah being that rude toward Lia.
cuman karena aku BT nungguin segitu lama di depan rumah dia hujan-hujanan.
sebenrnya kalo mau di desak lagi, bisa aja aku protes Lia, kenapa ngga' SMS? ya ngga?
tapi beberapa hari ini aku juga belajar banyak orang yang bersikap "ya weslah.. " dan merelakan untuk ngga' mendebat lebih lanjut karena mereka mau mengalah, dan memilih untuk bersikap lebih let it go. toh ngga' ada point utamanya begitu itu.
terutama, karena mereka juga bersikap seperi itu terhadap aku.
dan aku merasa berterimakasih sekali atas kebaikan hati mereka.
that's why, i tend to do the same thing.

banyak alasan buat aku kecewa sama temen-temenku dan atas apa yang mereka lakukan terhadap aku.
Timmy, Lia, Melina, Carolin, Kevin, Timot..
smua hal itu ngga' terhindarkan.
tapi aku mau nyoba buat lihat lebih dalem lagi balik ke diriku sendiri.
waktu aku juga mengecewakan mereka, mereka tetap berjalan di sampingku, dan ngga pernah memutuskan berhenti jadi temanku.
yah walaupun kadang mereka ngilang ke mana gitu.. XD

oh ya Dy, biarpun begitu, aku somehow setuju banget sama Nii-Nii;
"punya teman itu.. mengharukan".
barusan aku signed in di MSN, dan tiba-tiba Pitik nyapa,
"pine? kamu kenapa? stress ta? kok nick'mu desperado gitu?"
hahahaha... padahal itu nick udah lamaa banget kupasang gara-gara internet jeblok dulu, cuman lupa belum kuganti.

hahh.. Dy, ternyata, hidup itu memang pilihan ya.
di tengah hari yang berjalan lebih menjengkelkan dari biasanya ini,
kita masih punya pilihan :
mau melihat yang those bad things itu dan being grumpy all the rest of the day,
atau fokus kepada hal-hal yang baik, dan yang pantas untuk disyukuri.

dan, walaupun sulit..
aku akan terus berusaha untuk memilih pilihan kedua,
dan terus melangkah maju.

have a good night, dear diary!!
*smooch!*